Minggu, 18 Maret 2012

CERPEN REMAJA

RINA
Ditulis oleh : RUDI,S.Pd



Astagfirullah…!!” Pak Dendi segera melepaskan pelukannya. “Kita belum boleh melakukan ini !” lanjutnya sambil mengangkat dagu wanita yang tadi berada dipelukannya, dengan jemari tangan kanannya. “Kita belum boleh melakukan semua ini !” Kata Pak Dendi sekali lagi.

Wanita mungil umur belasan itu menundukakkan wajahnya dalam-dalam. Ia tiba-tiba tidak berani menatap mata lelaki tanpan yang duduk di atas ranjang kecil di hadapannya.

Maafkan bapak, Rin. Bapak khilaf.” Bisik Pak Dendi dengan suara yang terdengar gemetar dan tidak jelas, seraya perlahan turun dari ranjang kecil terbuat dari kayu.

Kengapa,..?” Tanya Rina.Sambil tetap menundukan wajah dan mebelakangi Pak Dendi yang sudah bermaksud ke luar dari ruangan itu “Apa karena aku ini murid bapak, sehingga bapak tidak berani melakukan itu ?” Rina melanjutkan pertanyaanya.

Pak Dendi tidak  menjawab, ia segera ke luar dari kamar Rina yang sebenarnya baru kali pertama memasukinya satu jam yang lalu. Sekeluarnya dari ruangan itu Pak Dendi langsung pulang ke tempat kostnya yang tidak jauh dari situ. Sudah hampir satu tahun pak Dendi kost di rumah tetangga Rina, Letaknya hanya selang dua rumah di sebalah kanan rumah Rina. Dan kedekatannya dengan Rina, sebenarnya baru satu bulan, itu pun karena Rina sering berkunjung ke tempat kost Pak Dendi untuk menanyakan materi pelajaran yang belum ia mengerti.

Hari itu juga, setelah kejadian perbuatan tidak senonoh itu, pada malam harinya, Pak Dendi langsung pindah kost ke tempat yang jauh dari rumah Rina. Guru muda golongan III.A yang belum genap enam bulan menerima SK PN itu ingin berusaha sekuat tenaga untuk melupakan kejadian yang hanpir saja menghancurkan nama bainya. Ia akan membuang kenangan pahit persitiwa tidak senononh akibat kelengahannya itu jauh-jauh dari memorinya. Ia malu pada diri sendiri. Malu pada profesinya, dan malu pada Allah.

Sehari setelah kejadian itu, Rina beberapa kali SMS memohon maaf dan meminta bertemu dengan Pak Dendi. Tapi SMS itu hanya dibaca saja, tidak satu pun dibalasnya. Bahkan di hari ke tiga, Rina mencoba menghubungi via HP, tapi Pak Dendi tidak mengangkatnya.

Demi menutup peluang berkomunikasi dengan Rina, akhirnya Pak Dendi pun mengganti kartu GSM-nya dengan yang baru. Ia tidak ingin Rina menghubunginya lagi. Walau pun hanya sekedar SMS saja.

Sejak kejadian itu pula, Rina tidak pernah masuk sekolah. Bagi Pak Dendi ini suatu hal yang sangat membantunya dalam upaya melupakan kejadian itu, meskipun ketidakmasukkan Rina kerap juga menjadi rasa bersalah dibatin guru muda berwajah tampan itu. Tapi dengan Rina tidak masuk sekolah, berarti tertutup sudah peluang untuk bertemu dengan wanita itu. Karena paling tidak satu minggu dua hari ia harus mengajar di kelas XI IPA.2 dimana Rina merupakan salah satu penghuni kelas itu.Dan sejak kejadian memalukan itu, ruang kelas XI IPA.2 menjadi seperti pintu neraka, yang sangat menakutkan bagai Pak Dendi. Bahkan saking menakutkannya, untuk melewati depan kelasnya saja membuat keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuh Pak Dendi.

Bagi teman-temannya, dan guru-guru lain, tidak masuknya Rina menjadi pertanyaan yang menimbulkan berbagai penafsiran akan penyebabnya.Berbagai spekulasi pun menyebar. Ada yang mengatakan Rina tidak masuk karena sakit. Ada juga yang mengatakan, Rina tidak masuk karena ada kepentingan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Untungnya tidak ada yang mengatakan, Rina tidak masuk karena kejadian memalukan dengan gurunya.Malah yang paling santer terdengar, Rina akan berhenti sekolah karena ikut orang tuanya pindah ke Surabaya.

Satu bulan berlalu, nama Rina sudah benar-benar hilang dari ingatan Pak Dendi. Ia sudah berhenti dari sekolah ini. Kedua orang tuanya telah menyampaikan surat bukti permohonan berhentinya. Pak Dendi merasa lega mendapat kabar membahagiakan itu. Selain bisa melupakan Rina untuk selamanya, juga kejadian yang hampir saja merusak nama baiknya itu, akan tetap hanya akan menjadi cerita miliknya dan Rina. Semoga saja Rina tidak menceritakannya pula pada orang lain.

Hari ini genap, satu bulan setengah sudah Rina berhenti dari sekolah. Saat Pak Dendi hendak memasuki ruang kelas XI IPA.2, tiba-tiba terdengar perguncingan di depan pintu kelas. Neni, Dian dan Sefi, menyebut-nyebut nama yang selama ini paling tidak mau di dengar telinga Pak Dendi.

Sepertinya ada berita baru, nih…?” Selidik Pak Dendi, saat sekejap ketiga muridnya itu menghentikan obrolannya.

Memang bapak belum dengar yah…?” Sahut Neni.

Tentang apa…?” Pak Dendi malah balik Tanya.

Memang bapak belum dapat undangannya yah…?” Dian ikut bertanya juga.

Undangan apa…?” Tanya Pak Dendi semakin penasaran dan bingung.

“Besok Minggu, Rina menikah, pak.!!” Jelas Sefi.

Ooo…” hanya itu yang meluncur dari bibir Pak Dendi.

Biasa, pak….! Sudah isi tiga bulan.” Kata Dian sambil menutup mulutnya, seolah tidak sengaja mengeluarkan kalimat terakhir itu.

Apa…?!!” Pak Dendi merasa sangat terkejut dan penasaran, seolah-olah kurang yakin dengan pendengarannya tadi.

Iya, pak. Menurut  tetangganya, Rina dipaksa orang tunya harus menikah karena positif hamil tiga bulan.” Jelas Sefi.

Mendengar itu, Pak Dendi terdiam beberapa saat. Tiba-tiba ingatannya kembali menerawang pada kejadian hari itu Sekejap kemudian bell masuk pun bordering memecah keheningan. Semua murid-murid berlarian memasuki kelasnya masing-masing.

Alhamdulillah…!!” Gumam Pak Dendi dalam hati.

---------------------- SELESAI ----------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar